Orasi Ilmiah Guru Besar ITB Prof. Dicky Rezady Munaf dan Prof. Emir Mauludi Husni

Sabtu, 14 Maret 2020, di Gedung Aula Barat ITB, Forum Guru Besar ITB melaksanakan Sidang Orasi Ilmiah Guru Besar Prof. Dicky Rezady Munaf dalam Bidang “Ilmu Sosioteknologi” dan Prof. Emir Mauludi Husni dalam Bidang “Ilmu Computing Network on Spacecraft. Orasi Ilmiah dipimpin oleh Ketua Forum Guru Besar, Prof. Freddy Permana Zen didampingi Sekertaris Forum Guru Besar Prof. Taufan Marhaendrajana.

Pada kesempatan pertama, dalam Orasi Ilmiah. Prof. Dicky Rezady Munaf berjudul Peran Sosioteknologi untuk Menjadikan Kearifan Lokal Sebagai Salah Satu Pelopor Revolusi Industri 5.0 disampaikan bahwa, Perjalanan manusia sejak awal sampai saat ini telah berevolusi mulai dari memiliki Jagad Raya bersama sampai timbulnya ketidak harmonisan antar manusia yang diakibatkan oleh alam, budaya, dan adanya kompetisi untuk mewujudkan impiannya yaitu Kesejahteraan dan Keamanan. Kemudian, pemanfaatan kondisi alam sekitar dilakukan dengan mewujudkan impian manusia untuk menjadi lebih sejahtera dan aman, di anggap mayoritas orang dapat diperoleh melalui produk Ilmu Alam, Ilmu Formal, dan Ilmu Terapan (AFT). Anggapan seperti ini terdapat pada masyarakat yang hidup di dunia yang mayoritasnya sebagai pengguna produk. Sedangkan masyarakat yang menciptakan produk atau pelopor, berpijak pada rumpun Ilmu Humaniora dan Ilmu Sosial (HS) bahkan rumpun Ilmu Agama (Ag) sebagai koridor analisi potensi dampak dalam penciptaan impian manusia melalui nilai tambah yang berkelanjutan.

Selanjutnya, Prof. Dicky Rezady Munaf menyampaikan – Rumpun Ilmu AFT dengan rumpun Ilmu HS telah terjadi sejak ribuan tahun yang ditunjukan melalui artefak sejarah yang menceritakan bahwa rumpun Ilmu AFT lahir atas prediksi rumpun Ilmu HS dengan bimbingan moral yang disebutkan dalam rumpun Ilmu Ag.

Selanjutnya, Prof. Dicky Rezady Munaf menyampaikan perjalanan kepeloporan bangsa yang terletak diantara 2 benua dan 2 samudera. Bangsa Indonesia pernah menjadi pelopor, antara lain ialah (1)Kearifan irigasi Subak di Bali, dan Sasi di Papua, (2)Penguatan Struktur Tanah untuk Cegah Longsor dengat rumput Chrysopogon zizanioides, (3)Prinsip Alat Deteksi Dini Longsor.

Kemudian Prof. Dicky Rezady Munaf mengatakan “Sejak kapan bangsa Indonesia melupakan kepeloporannya?” – Sejak tahun 1596 saat VOC mendarat di Banten, bangsa lain secara mudah memasukan produk rumpun Ilmu AFT ke bangsa Indonesia, karena sebelumnya mereka telah mempelajari karakteristik Humaniora, Sosial dan Agama. Disisi lain, pengetahuan turun menurun tidak disinergikan oleh bangsa Indonesia dengan produk yang baru masuk sehingga tidak ada nilai tambah dari pengetahuan turun menurun tersebut.

Gagasan tentang perlunya kepeloporan bangsa Indonesia pada Revolusi Industri yang diprediksi akan berada diantara dekade 2020-2030 perlu dilakukan dengan mendayagunakan jadi diri bangsa Indonesia sebagai komoditas ide yang akan meletakan bangsa Indonesia sebagai pelopor yang sangat penting dalam era pertukaran ide. Jati diri yang dimaksud adalah Kearifan Lokal. Prof. Dicky menyampaikan bahwa kearifan lokal tersebut hendaknya dikembangkan oleh Lembaga Iptek, Perguruan Tinggi, dan Balitbang yang didukung oleh regulasi pemerintah melalui ilmu Sosioteknologi. Prof. Dicky menambhakan peran pemerintah yang tidak hanya menggiatkan proses nilai tambah tetapi juga secara bersama tentang menjadikan jati diri bangsa sebagai ujung tombak kepeloporan bangsa di dunia internasional.

Dalam Orasi Ilmiah Prof. Emir Mauludi Husni yang berjudul Delay Tolerant Network untuk Menjembatani Digital Divide di Indonesia menyampaikan bahwa, dalam filsafat manusia dikenal sebagai Homo Faber atau tool-making animal, yaitu makhluk yang pandai membuat perkakas untuk membantu dirinya hidup lebih mudah. Manusia juga merupakan makhluk Homo Mensura yaitu (makhluk penilai) yang menjadikan manusia sebagai makhluk Homo Valens sebagai makhluk yang melakukan inovasi dan petualang. Kemudian, dalam era digital saat ini perkakas yang digunakan maupun petualang yang dilakukan seorang manusia, bukan lagi terbatas pada benda secara fisik saja, tetapi dalam bentuk teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Prof. Emir Mauludi Husni mengatakan yang menjadi masalah di Indonesia sebagai Negara kepulauan adalah kemajuan TIK masih terkonsentrasi di daerah perkotaan.

Dalam Orasi Prof. Emir Mauludi Husni mengusulkan Delay tolerant network (DTN) sebagai pendekatan alternatif untuk menjembatani digital divide di Indonesia. Dengan penerapan teknologi delay tolerant network (DTN) yang biayanya lebih terjangkau dibanding teknologi telekomunikasi yang lain, maka banyak manfaat yang dapat diberikan pada masyarakat. Selanjutnya, pengembangan delay tolerant network untuk menjembatani digital divide di Indonesia adalah sebuah contoh penggunaan teknologi tinggi yang tepat guna: awalnya digunakan untuk deep space communication, di Indonesia dapat digunakan untuk komunikasi daerah terpencil.

Inovasi teknologi tepat guna tersebut akan tumbuh menambah khasanah kearifan lokal di seluruh Indonesia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi budaya seluruh masyarakat Indonesia dan mendukung peningkatan ekonomi setempat.

Dalam Orasi Ilmiah turut hadir Wakil Presiden Indonesia ke-6 Bapak Jendral TNI (Purn) Try Sutrisno, para Laksamana badan keamanan laut, para jendral dan perwira menengah badan keamanan laut, Dekan/Dekanat FSRD dan STEI ITB, Ketua Senat Akademik ITB Prof. Hermawan Kresno Dipojono serta Prof. Wiranto Arismunandar dan para Guru Besar ITB lainnya.

Berita Terkait